www.zejournal.mobi
Sabtu, 24 Februari 2024

Lookisme, Korea Menuntut Kecantikan ala Bintang K-Pop

Penulis : Oca - Publica News | Editor : Anty | Sabtu, 18 Maret 2023 11:33

Camilla baru saja pindah dari Australia ke Korea Selatan, dan mengeluh betapa Negeri Ginseng amat menuntut soal citra diri. Di Australia, ia merasa 'tidak ada yang salah dengan tubuhnya'. Tapi di Korsel, teman-teman lokalnya ternyata sangat nyinyir soal penampilan.

"Saya diberitahu bahwa saya gemuk dan bahwa saya akan terlihat jauh lebih menarik jika menurunkan berat badan --hanya karena saya tidak terlihat seperti bintang K-pop yang beratnya kurang dari 50 kilogram," kata Camilla kepada The Korea Times, Rabu (8/3).

Korea (Selatan) memiliki standar kecantikan yang unik, budaya mereka khas. Korea memiliki seperangkat kriteria sendiri untuk menentukan apa yang 'diinginkan' dan 'tidak diinginkan'. Kadangkala absurd, tak masuk akal.

Bagi wanita, kriteria cantik adalah bertubuh langsing, kulit pucat tanpa cela, rahang yang khas, dan mata besar dengan kelopak ganda. Untuk pria, penekanan lebih pada fisik androgini yang ditandai dengan dada bidang.

Inilah yang dikenal sebagai Lookism atau Lookisme, yaitu menilai seseorang dari tampilan fisik atau apa yang terlihat. Menurut Camilla, tidak ada penghargaan terhadap tubuh secara lebih positif di luar kriteria Korea. Camilla jadi merasa terlihat 'cacat'.

"Sejujurnya, saya memiliki hubungan yang sangat buruk dengan tubuh saya sekarang. Aku tidak pernah mengalami sebelumnya," ujarnya.

Kisah serupa dialami Trina, asal Afrika Selatan, yang telah tiga tahun tinggal di Korea. Ia kerap menerima prasangka karena warna kulitnya yang tidak sebening porselen. "Aku tidak putih, oleh karena itu, aku tidak menarik," katanya.

Di Korea, mengomentari penampilan orang lain dianggap sebagai normal dan bukan dipandang sebagai body shaming atau celaan fisik. "Menyedihkan karena teman-teman saya benar-benar berpikir mereka melakukannya untuk menolong saya," kata guru SMA Aiden. Ia pernah dikritik soal giginya yang terlalu besar.

Greta Nishan (23), asal Amerika Serikat, mengenang kembali percakapannya dengan teman-teman Korea-nya. Ia mengaku pernah disodori 'daftar periksa' yang panjang tentang penampilan fisik. "Saya harus lebih langsing. Setelah itu selesai, saya harus mendapatkan kulit yang lebih halus, dan setelah itu saya harus memiliki rambut yang lebih tebal. Tidak ada habis-habisnya daftar kekurangan saya," ia menjelaskan.

Menurut Korea Times, 'hak' untuk mengomentari kebiasaan dan penampilan orang lain adalah produk samping dari persepsi tubuh monolitik Korea. Ada semacam cetak biru tentang kecantikan dan tubuh yang ideal.

Seorang wanita yang meminta diidentifikasi dengan inisial EE, menjelaskan temannya membombardir dengan foto-foto artis K-Pop yang kurus, mungil untuk ukuran orang Barat sepertinya, dan kulit bening mengkilap. "Sehingga saya mulai menjadi sangat kritis terhadap tubuh saya sendiri. Berat saya 54 kilogram, tapi mengira saya masih gemuk. Saya mulai berolahraga berlebihan dan mengurangi makan, akibatnya saya malah muntah," katanya.

Perempuan lainnya yang hanya menyebut nama keluarganya, Wilcox, mengaku menderita bulimia karena 'terprovokasi' bentuk perut yang harus rata. "Tidak ada yang pernah berpikir bahwa wanita secara biologis dibangun tidak untuk memiliki perut rata karena punya organ reproduksi," ia mengingatkan.

Tidak tahan dengan Lookisme, Wilcox tidak memperpanjang kontrak kerjanya di Korea. Ia memilih pulang ke AS bulan depan. "Saya harus berada di tempat yang sehat untuk saya, dan itu bukan Korea," ia menegaskan.

Bagi sebagian besar orang Korea, Lookisme --citra diri yang tercermin dari daya tarik fisik-- identik dengan kesuksesan. Makin menarik penampilan fisik Anda akan makin mudah mendapatkan pekerjaan yang menjanjikan dan jodoh.

Promosi 'mentalitas beracun' ini, menurut Korea Times, gencar dilakukan media-media lokal. Pada mulanya tujuannya bagus, yakni untuk memotivasi individu menerapkan gaya hidup sehat. Seringkah Anda melihat gadis Korea gemuk?

"Tapi kemudian cetak biru ini seperti dipaksakan. Korea menjadi masyarakat yang homogen dan menolak perspektif kecantikan yang lain," Korea Times mengulas.


Berita Lainnya :


Anda mungkin tertarik :

Komentar

Kirim komentar anda dengan :



Tutup

Berlangganan Email

Dapatkan newsletter, kami kirimkan ke email anda

  


Keluar