www.zejournal.mobi
Minggu, 03 Maret 2024

'Anak-anak Penuh Waktu' China, Sampai Kapan Bertahan Menganggur?

Penulis : Ian Publica News | Editor : Anty | Senin, 07 Agustus 2023 15:05

Beijing - Terlalu banyak bekerja dan kelelahan, Julie keluar dari perusahaan pengembang game di Beijing pada April lalu. Ia pulang kampung untuk menjadi 'anak perempuan penuh waktu'.

Gadis 29 tahun yang belum menikah itu kini menghabiskan harinya dengan mencuci piring, menyiapkan makanan untuk orang tuanya, dan melakukan pekerjaan rumah tangga lainnya. Orang tua Julie membayar sebagian besar pengeluaran hariannya.

Ada tawaran pekerjaan baru dengan gaji 2 ribu yuan, setara Rp 4,1 juta. Tapi Julie menolak. Prioritasnya saat ini adalah beristirahat setelah dulu bekerja 16 jam sehari.

Julie mengaku kehidupannya sebagai pekerja sangat tidak manusiawi. "Saya hidup seperti mayat berjalan," katanya kepada BBC, Selasa (18/7).

Jam kerja yang melelahkan dan pasar kerja yang suram memaksa kaum muda membuat pilihan yang tidak biasa. Julie adalah bagian dari kelompok yang sedang tumbuh di China yang menyebut diri 'anak-anak penuh waktu' (full-time children).

Mereka memberontak dan kembali ke kenyamanan rumah, baik karena ingin istirahat dari kehidupan kerja yang melelahkan, atau lantaran tidak dapat menemukan pekerjaan lagi.

Menurut data, satu dari lima anak muda China berusia 16-24 tahun kini menganggur. Angka resmi pemerintah yang dirilis pada Senin, menyebutkan pengangguran mencapai 21,3 persen, tertinggi sejak 2018.

Banyak dari 'anak penuh waktu' itu berniat tinggal di rumah sementara waktu --melepas penat, refleksi, memanusiakan diri sendiri. Suatu ketika mereka akan mencari pekerjaan yang lebih baik.

Tetapi mimpi itu lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Julie telah mengirim lebih dari 40 lamaran dalam dua pekan terakhir --tetapi hanya dua panggilan wawancara yang ia terima.

"Sulit mencari pekerjaan sebelum saya berhenti. Setelah saya menganggur, semakin sulit," ujarnya.

China terkenal dengan jam kerja yang buruk --budaya kerja di Negeri Tirai Bambu itu diistilahkan dengan '996'. Mereka bekerja dari jam 9 pagi sampai jam 9 malam, enam hari sepekan.

Chen Dudu (27), juga seorang 'putri penuh waktu'. Ia meninggalkan pekerjaannya di real estate awal tahun ini karena lelah dan kurang dihargai. Gajinya tak cukup untuk memanjakan diri sendiri. "Hampir tidak punya apa-apa lagi setelah membayar sewa apartemen," ia bercerita.

Ketika kembali ke rumah orang tuanya di China selatan, Chen menjalani kehidupan pensiunan. Mula-mula nyaman, tapi belakangan ia cemas terus menganggur. "Jika ini berlangsung lama, saya memang akan menjadi parasit," ujarnya.

Jack Zheng (32), yang baru-baru ini meninggalkan raksasa teknologi China Tencent, termasuk yang beruntung. Ia mendapatkan pekerjaan yang lebih baik setelah menganggur.

Di China berlaku 'kutukan usia 35'. Pemberi kerja tidak bersedia menerima pelamar yang berusia lebih dari 35 tahun, mereka memilih pekerja muda karena lebih murah.

Pada Mei lalu, pemimpin Tiongkok Xi Jinping mendesak kaum muda untuk chi ku, prihatin dulu atas pelambatan dunia kerja ini.

Namun, 'anak-anak penuh waktu' tak terima dengan imbauan chi ku ala Jinping. Mereka meminta pemerintah mengakui situasi pengangguran ini buruk.

"Kami jelas-jelas menganggur, namun pejabat menggunakan frasa 'pekerjaan lambat'. Seberapa lambat? Berapa tahun lagi kami menganggur," seorang pengguna Weibo, mirip layanan Twitter, memprotes.

Nie Riming, seorang peneliti di Institut Keuangan dan Hukum Shanghai, melihat banyak anak muda China semula berniat cuti untuk menghilangkan stres dengan kembali ke rumah orang tua di desa. Tapi akhirnya mereka terjebak jadi pengangguran betulan.

"Sebagian besar dari mereka membutuhkan pekerjaan, tetapi tidak dapat menemukannya. Mereka bisa terjebak menjadi 'anak-anak penuh waktu' berkepanjangan," katanya.


Berita Lainnya :


Anda mungkin tertarik :

Komentar

Kirim komentar anda dengan :



Tutup

Berlangganan Email

Dapatkan newsletter, kami kirimkan ke email anda

  


Keluar