www.zejournal.mobi
Minggu, 03 Maret 2024

'Kami di Tangan Kartel Narkoba': Pilpres Ekuador di Tengah Waswas

Penulis : Ian Publica News | Editor : Anty | Jumat, 25 Agustus 2023 15:24

Quito - Pesan WhatsApp itu mengancam dan penuh tekanan. Franklin Torres, Presiden Federasi Nasional Petani Pisang Ekuador, gemetar membacanya.

"Selamat malam Franki, ini Jalisco New Generation (kartel narkoba Meksiko; red)," bunyi pesan itu dalam bahasa Spanyol, Minggu (13/8) malam. "Jika Anda mengabaikan saya, Anda akan mendapat masalah. Sediakan uang 6 ribu dolar AS --saya mengawasi Anda, istri, dan anak-anak Anda."

Tapi Franklin Torres mengabaikannya. Beberapa hari kemudian, pesan lain datang, kali ini ke istrinya. "Katakan pada suamimu untuk 'bekerja sama'. Kami menulis dari penjara dan ada orang yang mengawasi Anda dari jendela."

Ekuador waswas menjelang pemilu pada Minggu (20/8) lusa. Dua tokoh politik dibunuh dalam lima hari. Pertama, kandidat presiden Fernando Villavicencio ditembak mati pada siang bolong, sekeluar ruang kampanye di ibukota Quito. Lalu Ketua Partai Revolusi Warga, Pedro Briones, dihabisi geng narkoba lima hari kemudian, Rabu (16/8).

"Tidak ada yang aman di negara ini. Kami berada di tangan kartel narkoba, sendi-sendi kehidupan negeri ini telah mereka kuasai," kata Anthony Garcia, warga Quito kepada Ecuador Times, Jumat (18/8).

Franklin merasa sia-sia melaporkan teror WhatsApp kepada polisi. Permohonannya agar warga sipil boleh punya senjata untuk menghadapi kartel narkoba juga tak digubris.

"Negara ini tidak memiliki 911 (panggilan telepon polisi), atau patroli polisi," ujarnya. "Lebih baik orang baik juga memiliki senjata, bukan hanya orang jahat," ia menambahkan.

Ekuador adalah pengekspor pisang terbesar di dunia. Celah inilah yang digunakan kartel untuk mengirim narkoba dari pelabuhan Ekuador ke negara-negara Eropa. Kartel ingin menunggangi asosasi petani pisang untuk menyelundupkan narkoba.

Kartel Meksiko dan Kolombia telah menyusup ke geng-geng lokal di Ekuador, mereka bersaing untuk memperebutkan rute narkoba yang menguntungkan. Pernah menjadi salah satu negara paling damai di Amerika Selatan, Ekuador terpukul parah oleh Covid. Kartel kemudian mengambil keuntungan dari negara yang rusak akibat pandemi, dan politik yang korup.

Menurut kepolisian Ekuador, dalam enam bulan pertama tahun ini, ada 3.568 kematian karena kekerasan geng kriminal. Angka itu naik lebih dari 70 persen dibanding tahun lalu.

Geng narkoba membeli politikus, aparat negara, bahkan jaksa dan hakim untuk memuluskan bisnis haram di negara yang berbatasan dengan Kolombia dan Peru ini.

Minggu lusa, masyarakat akan pergi ke bilik suara untuk memilih presiden. Geng narkoba mengintai di jalanan. Menurut Kantor Berita AP, di beberapa kota suasananya mirip perang.

Bahkan Andrea González, calon wakil presiden dari Partai Construye, sekarang memakai rompi antipeluru 24 jam sehari. Ia termasuk penentang kartel narkoba.

Pembunuhan capres Villavicencio membayangi mereka. "Pembunuhan Villavicencio adalah tragedi yang mengerikan. Ini menandai titik belok di mana politik kematian sekarang menjadi bagian dari budaya di sini," kata konsultan politik Oswaldo Moreno.

Tapi penduduk juga tak mungkin tidak pergi ke kotak suara. Di Ekuador, mencoblos hukumnya wajib, pelanggar bisa kena denda 45 dolar AS, setara Rp 689 ribu.

Beberapa orang telah menyatakan lebih baik bayar denda ketimbang menyabung nyawa dengan pergi ke bilik suara.

“Kami hidup di tengah kejahatan yang mengerikan," kata Dalia Chang (59), warga Guayaquil, kepada AP. "Saya tak akan kemana-mana pada hari pencoblosan. Saya pilih bayar denda ketimbang nyawa," ia menegaskan. 


Berita Lainnya :


Anda mungkin tertarik :

Komentar

Kirim komentar anda dengan :



Tutup

Berlangganan Email

Dapatkan newsletter, kami kirimkan ke email anda

  


Keluar