www.zejournal.mobi
Senin, 15 April 2024

China Kembali ke 'Ekonomi Komando', Warga Antre Beli Makan. Siapa Mau?

Penulis : Ian - Publica News | Editor : Anty | Selasa, 08 November 2022 10:34

'Kantin komunitas' itu baru saja diresmikan. Lokasinya di perumahan Fengqing, di pusat Kota Wuhan, China. Banyak warga antre untuk membeli makanan yang diproduksi secara massal.

"Saya di sini untuk mencicipi makanan yang ditawarkan di kantin yang dikelola negara," kata perekam video antrean di kantin tersebut, seperti ditulis Radio Free Asia, Sabtu (5/11).

Perekam kemudian menunjukkan nampan berisi semangkuk nasi dan mangkuk warna-warni lainnya.

Kantin komunitas sudah dimulai sejak 1 November lalu, menyusul 'sukses' Presiden Xi Jinping kembali memimpin Partai Komunis China (PKC) --yang memungkinkannya mengukir sejarah menjadi presiden tiga periode.

Salah satu kebijakannya adalah mempercepat kembalinya ekonomi yang dikelola negara di era Mao Zedong, filsuh, pendiri RRT, dan presiden terlama (1949-1976).

Jinping menginstruksikan pemerintah daerah dan lingkungan mengontrol rantai pasokan makanan dengan membangun depo komunitas mandiri untuk melayani kompleks-kompleks perumahan.

Setiap 100 rumah tangga harus memiliki pusat layanan yang komprehensif minimal seluas 30 meter persegi. Depo ini berisi toko serba ada, kios sayur, kantin, dan semua kebutuhan komunitas. Termasuk kantor pos dan binatu.

Kenangan tentang kantin dan toko-toko negara di bawah Federasi Koperasi Pasokan dan Pemasaran China telah membuat banyak orang tua tidak nyaman. Bagi Zhang Jianping, rencana Jinping ini mengingatkan pada ekonomi terencana zaman Mao. Padahal, China sudah menikmati ekonomi pasar sejak era Deng Xiaoping. Penduduk memiliki cukup makanan, China pun makmur.

"Kami baru saja makan sampai kenyang, dan sekarang kembali ke ekonomi komando lagi," ujar Zhang Jianping dari Jiangsu.

Kebijakan baru ini membuatnya kembali pada suasana perang, semuanya serba dikontrol negara. "Sejujurnya, kami semua takut... Orang-orang berspekulasi apakah ini berarti akan ada perang," katanya. "Perang merupakan satu-satunya alasan untuk kembali ke ekonomi terencana. Ini jelas kemunduran," ia menambahkan.

Hal senada disampaikan Li Ang dari Hunan. Ingatan 'swasembada sosialis' masih segar dalam ingatannya, saat itu ia masih anak-anak dan melihat para orang tua antre membeli makan di depo-depo lingkungan

"Ini adalah demonstrasi yang jelas dari tekad PKC untuk memisahkan diri dari peradaban Barat, setelah Kongres ke-20 PKC," Li Ang menjelaskan.

'Kantin negara' telah bermunculan di kompleks perumahan di Provinsi Hunan, Hubei, Shandong, dan Yunnan. Mereka menjual bahan pangan lebih murah.

Namun, pengamat kebijakan Ma Ju menilai pemusatan kantin juga mempolitisasi makanan. Membuat kalangan berpenghasilan rendah, seperti orang tua, makin bergantung pada negara.

"Membangun kantin juga tentang mengendalikan orang melalui makanan dan menanamkan pikiran orang bahwa Partai Komunis-lah yang bisa memberi makan," katanya.

Kantin negara ini membangkitkan kenangan era 1970-an dan 1980-an ketika penduduk antre untuk mendapatkan jatah beras, minyak, dan sembako. Komite lingkungan akan bertanggung jawab dalam distribusi dan rantai pangan.

"China diam-diam me-reboot institusi era Mao dengan pilar ekonomi komando sosialis untuk memisahkan diri dari ekonomi global," ujar ekonom kelahiran Beijing, Li Hengqing, kepada RFA.

Ia meragukan ada orang China masa kini mau memiliki jatah untuk membeli minyak, beras, daging, dan barang-barang lainnya. "Tidak ada yang ingin kembali ke masa itu," Hengqing menegaskan.


Berita Lainnya :


Anda mungkin tertarik :

Komentar

Kirim komentar anda dengan :



Tutup

Berlangganan Email

Dapatkan newsletter, kami kirimkan ke email anda

  


Keluar